Loading...

Senin, 18 April 2011

Penilaian Unjuk Kerja


Bab 1
Pendahuluan

            Sebelum membicarakan tentang penilaian akan ditinjau terlebih dahulu beberapa  istilah yang banyak ditemui dan sering ditanyakan perbedaannya, yaitu pengujian, pengukuran, penilaian dan evaluasi.
1.      Pengujian adalah kegiatan memberikan sejumlah pertanyaan.
2.      Pengukuran adalah kegiatan yang sistematik untuk memberikan angka pada objek atau gejala
3.      Penilaian (assessment) adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil belajar.
4.      Evaluasi adalah penentuan mutu dan penentuan pencapaian tujuan suatu program. Sesuai dengan pengertiannya, dapat dikatakan bahwa penilaian adalah suatu kegiatan pengukuran, kuantifikasi dan penetapan mutu pengetahuan siswa secara menyeluruh. Dalam pengertian ini diisyaratkan bahwa penilaian harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan menggunakan beragam bentuk. 
            Tes dan teknik-teknik penilaian hanya diperlukan untuk menunjukkan bagaimana siswa mengerjakan tugas-tugas yang sebenar-benarnya. Bila kita menginginkan siswa menjadi seorang yang dapat memecahkan masalah dengan baik, maka tes tentang kompetensi pemecahan masalah harus secara logis menilai unjuk kerja siswa dalam tugas pemecahan masalah.
            Ketika siswa dinilai berdasar unjuk kerjanya, tes menjadi bagian dalam pengajaran. Misalnya seorang pelatih akan bekerja secara teratur dengan pemain-pemainnya untuk menyusun tujuan-tujuan guna meningkatkan unjuk kerjanya.
            Rangkaian program pengajaran dan penilaian didasarkan pada hasil penilaian sebelum dan seterusnya. Dengan demikian diperlukan simpanan catatan-catatan yang lebih dari sekedar nilai (grades), tetapi harus menunjukkan secara lengkap dan tepat gambaran unjuk kerja siswa, sehingga catatan-catatan tersebut dapat digunakan untuk memberikan umpan balik dan bagi orang tua dan guru untuk dijadikan bahan bukti kemajuan siswa.
Bab II
Pembahasan

            Dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah-sekolah untuk mengetahui bakat dan minat semua siswa maka tiap sekolah pastinya mengadakan suatu tes. Tes itu sendiri ada beberapa macam salah satunya adalah tes uraian atau esai. Menurut beberapa ahli tes itu memiliki beberapa arti diantaranya:
a.                   Menurut Allen dan Yen, 1979: 1
Tes  adalah alat untuk memperoleh data tentang perilaku individu
b.                  Pada buku psychological Testing, Anastari, ( 1982:22 )
Tes  merupakan  pengukuran yang obyektif dan standard
Karena itu, didalam tes terdapat sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab atau tugas yang harus dikerjakan, yang akan memberikan informasi mengenai aspek psikologis tertentu (sampel perilaku) berdasarkan jawaban yang diberikan individu yang dikenai tes tersebut.
c.                   Menurut Cronbach
            Tes adalah prosedur yang sistematis guna mengobservasi dan mendeskripsi sejumlah atau lebih ciri seseorang dengan bantuan skala numerik atau sala kategoris. Dengan demikian cepat dinyatakan bahwa tes adalah prosedur yang sistematis. Ini berarti butir tes disusun berdasarkan cara dan aturan tertentu, pemberian skor harus jelas dan dilakukan secara yang terperinci, serta individu yang menempuh tes tersebut harus mendapat butir tes yang sama dan dalam kondisi yang sebanding. Selain itu tes berisi sampel perilaku, yang berarti kelayakan tes tergantung pada sejauh mana butir tes siswa yang pada umumnya disusun oleh gurunya.
            Peranan tes prestasi belajar paling signifikan adalah pada program pengajaran di sekolah. Jadi tes prestasi menjadi bagian integral PBM dan berpengaruh langsung terhadap perkembangan belajar siswa. Dalam hal ini, baik tes prestasi belajar buatan guru maupun standar, keduanya mengukur prestasi siswa di kelas. Tetapi tes yang dibuat guru adalah paling dominan dan paling sering digunakan (Gronlund,1968:1).
            Selanjutnya, Gronlund ( 1968: 4-11 ) merumusakan beberapa prinsip dasar pengukuran  pelajaran, yaitu:
1.                  Tes harus mengukur hasil belajar yang sesuai dengan tujuan instruksional, merupakan sampel yang representatif dari materi pelajaran, berisi butir tes dengan tipe yang paling tepat, dirancang sesuai tujuan, mempunyai reliabilitas dan validitas yang baik sehingga hasilnya ditafsirkan dengan tepat guna meningkatkan hasil belajar siswa.
2.                  Salah satu alat penilaian kemapuan mengajar guru di sekolah adalah kemampuan guru untuk melaksanakan evaluasi belajar siswa dalam PBM yang dilaksanakan. Pada umumnya, evaluasi yang dilaksanakan berupa evaluasi formatif, sumatif, dan remedial/her

            Evaluasi formatif digunakan oleh guru dan siswa. Untuk guru, formatif merupakan umpan balik untuk mengetahui penguasan siswa akan pelajaran yang diberikan (indikator) menilai keberhasilan metode mengajar, meramalkan nilai penilaian sumatif. Untuk siswa, membantu merencanakan urutan belajar dan perbaikan kelemahan penguasan pelajaran. Evaluasi ini menitikberatkan pad pengukura ketercapaian indikator yang telah ditentukan, dan system yang digunakan adalah Criterion Referencedtest (CRT) atau penilaian acuan patokan (PAP).
            Evaluasi sumatif digunakan untuk menentukan nilai siswa, keterangan tentang keterampilan dan kecakapan, keberhasilan belajar siswa, titik tolak pelajaran berikutnya, indikator prestasi siswa dalam kelompoknya. Evaluasi ini menitikberatkan pada status individu siswa dalam kelompok. Pada umumnya, sistem penilaian adalah norm referenced Test (NRT) atau Penilaian Acuan Norma (PAN) (Woolfolk dan Nicolich, 1984:570). Sedangkan perbaikan digunakan memperbaiki skor siswa yang diperoleh dalam tes sumatif.
            Dengan mempertimbangakan prinsip dasar tes prestasi dan fungsinya dalm evaluasi belajar siswa di sekolah maka jelas bahwa tes buatan guru yang digunkan (formatif, sumatif, dan her) penting peranannya menentukan prestasi siswa, keberhasialn PBM yang dikelola guru, program pengajaran di sekolah dan sekaligus menentukan mutu pendidikan. Karena itu, dalam membuat dan mengembangkan tes, guru harus menyusunnya dengan baik. Dengan demikian mempertimbangkan hal itu maka guru harus mengetahui kriteria tes yang baik, pedoman pengembangan tes, dan teknik pemberian skor.
            Biasanya jika dalam suatu kelas  dilakukan suatu tes maka setelah itu akan diadakan suatu penilaian. Penilaian itu sendiri juga ada beberapa macam yaitu penilaian kelas dan penilaian unjuk kerja. Semua bentuk penilaian mempunyai lima komponen utama. Komponen- komponen itu adalah instrumen penilaian, tanggapan siswa, penafsiran terhadap tanggapan siswa, pemberian skor, pencatatan hasil yang diperoleh dan pelaporan.
A.                Instrumen (Tugas) penilaian
Instrumen penilaian dapat berupa tugas atau masalah yang diajukan kepada siswa, diskusi kelas, aktivitas atau pertanyaan yang akan menghasilkan tanggapan siswa.
B.                 Tanggapan siswa
Tanggapan terhadap tugas.  Sebuah tanggapan dapat berbentuk jawaban numerik atau  tertulis yang menjelaskan suatu pemecahan masalah, presentasi lisan, atau portofolio karya siswa yang sudah dikumpulkan selama periode tertentu. Bermacam-macam tanggapan diperlukan untuk mengetahui pengetahuan matematika siswa secara luas.
C.                 Penafsiran tanggapan yang diberikan siswa. 
Penafsiran ini dilakukan oleh guru atau oleh siswa sendiri dengan menggunakan penilaian diri sendiri (self assessment). Penafsiran ini dapat berupa membandingkan tanggapan siswa dengan kompetensi yang diharapkan.
D.                Pemberian skor
Pemberian atau skala penafsiran tanggapan  siswa.  Hasil penskoran ini dapat menjadi umpan balik bagi siswa untuk melihat sejauh mana kompetensi yang sudah dicapai.
E.                 Pencatatan dan pelaporan hasil yang diperoleh.
Laporan ini dapat berbentuk tertulis seperti “Bagus” atau “Cukup” atau biasanya berupa nilai “A”, “B” atau berupa angka. Selain memiliki komponen, didalam suatu penilaian juga terdapat beberapa tujuan.  antara lain: 1. Mengetahui tingkat pencapaian kompetensi siswa. 2. Mengukur pertumbuhan dan perkembangan kemajuan siswa. 3. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa. 4. Mengetahui hasil pembelajaran. 5. Mengetahui pencapaian kurikulum. 6. Mendorong siswa belajar. 7. Umpan balik untuk guru supaya dapat mengajar lebih baik.

Dalam suatu penilaian ada beberapa teknik, antara lain:
Menurut jenisnya, teknik penilaian dibedakan  menjadi tes dan non tes
v    Tes adalah metode yang sangat penting untuk memperoleh informasi tentang apa yang dapat dilakukan dan diketahui siswa. Untuk menjamin hasil yang autentik dari setiap siswa, tes dilaksanakan dalam situasi yang khusus, yaitu:
a.                   Waktu terbatas.
Siswa harus menyelesaikan atau menjawab soal tes dalam waktu yang telah ditentukan.
b.         Tanpa bantuan
Tanpa bantuan dari buku, orang lain atau sumber-sumber lain, kecuali jika tes merupakan open book test.
c.         Pengawasan.
            Hal ini dilakukan supaya tes dapat berjalan dengan tertib dan mendapatkan hasil yang autentik.  Bentuk tes meliputi pilihan ganda, benar salah, menjodohkan, jawaban singkat, uraian terstruktur, uraian bebas, dan unjuk kerja. Tes yang digunakan guru sering merupakan kombinasi dari beberapa macam bentuk. Porsi dari masing-masing bagian sangat bervariasi, tergantung kepada tingkatan, subjek tes dan kecenderungan pembuat tes. 
v    Non Tes Jenis non tes terbagi lagi menjadi dua bagian yaitu
 penilaian hasil karya (produk) dan penilaian sikap.
a.                   Penilaian hasil karya (produk)
            Sebuah hasil karya adalah hasil pekerjaan siswa dan dievaluasi menurut kriteria tertentu. Umumnya hasil karya adalah tugas yang dikerjakan siswa di luar jam sekolah. Hasil karya ini dapat berupa: 1) bentuk tertulis, biasanya berwujud laporan, jurnal, drama, karya ilmiah dan tulisan  tentang suatu topik tertentu. 2) bentuk tidak tertulis, biasanya berbentuk tiga dimensi seperti pahatan, Kadang-kadang hasil karya siswa dapat merupakan kombinasi bentuk tertulis dan tidak tertulis. Sebagai contoh adalah karya ilmiah tentang teknologi tepat guna dalam suatu bidang tertentu yang terdiri dari alat dan deskripsi prinsip- prinsip ilmiah yang merupakan dasar cara kerja alat tersebut. Hasil karya merupakan sumber informasi yang sangat berguna untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan siswa. Sayangnya hasil karya ini seringkali bukan hasil autentik pekerjaan siswa karena adanya bantuan- bantuan dari luar yang diberikan dalam menyelesaikan hasil karya itu. Jika hasil karya siswa dikumpulkan dan dilihat kemajuan yang diperoleh siswa selama periode tertentu maka kumpulan itu disebut portfolio (portofolio). Portofolio dapat digunakan sebagai bahan diskusi dengan orang tua untuk melihat kemajuan siswa dan potensi yang dimilikinya.
b.                    Penilaian sikap
            Sikap dan minat siswa terhadap suatu mata pelajaran dapat diukur melalui pengamatan, pengisian angket atau check list.  
            Untuk memudahkan penyebutan selanjutnya, bentuk pilihan ganda, benar salah, menjodohkan dan jawaban singkat dikatakan bentuk tes konvensional. Seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwa penilaian dalam dapat diharapkan mengungkapkan kemampuan siswa dalam hal pemahaman konsep, prosedur, komunikasi, penalaran dan pemecahan masalah. Untuk menjawab tuntutan itu maka  guru harus menggunakan teknik penilaian yang dapat mengungkapkan hal-hal tersebut di atas. Sayangnya tidak semua teknik penilaian memenuhi komponen-komponen yang disebutkan. Kalaupun bisa, seringkali secara teknis ada kendala.
            Untuk itu perlu diketahui kelemahan dan kelebihan masing-masing teknik penilaian sehingga guru mempunyai gambaran dalam merencanakan penilaian di dalam kelasnya. Tes konvensional mempunyai kelebihan dalam hal dapat menjangkau materi yang luas, dapat dilaksanakan dalam waktu relatif singkat dan dapat diperiksa dengan cepat. Kelemahannya adalah memakan waktu yang cukup lama untuk merancang instrumen penilaian yang baik dan  umumnya  tidak bisa menjangkau kemampuan prosedur, penalaran, dan komunikasi. Seringkali  ditemukan bahwa siswa belajar hanya mekanis saja. Tidak mengherankan bahwa sering terjadi siswa menjawab benar, tetapi sebenarnya mereka tidak tahu alasan mengapa jawaban itu benar. Terutama sekali bila bentuk soal yang digunakan adalah pilihan ganda atau benar-salah. Banyak siswa yang menjawab berdasarkan terkaan saja. Jika guru hanya menggunakan teknik penilaian yang tidak dapat mengungkapkan penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan, maka akan terjadi kontradiksi. Di salah satu sisi siswa dianggap sudah menguasai kompetensi yang diharapkan, tetapi yang sebenarnya  adalah siswa belum menguasai kompetensi tersebut.

            Dalam hampir setiap mata pelajaran banyak materi yang dipelajari  membutuhkan pengetahuan prasyarat materi sebelumnya. Jika siswa yang dianggap sudah tuntas tadi (tetapi sebenarnya belum) mempelajari materi baru akan terjadi kesulitan akibat ketidak mengertian siswa tentang materi prasyarat. Akibatnya terjadi akumulasi ketidakmengertian materi yang dipelajari. Lebih jauh lagi siswa akan merasa dunia matematika menjadi gelap dan lama kelamaan menjadi hitam kelam. Keadaan ini akan bisa diketahui dan diperbaiki kalau instrumen penilaian ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengungkap alasan mengapa siswa memilih jawaban itu dan bagaimana ia sampai pada kesimpulan itu.

PENILAIAN KELAS
            Penilaian kelas adalah proses sistematik dan sistemik yang dilakukan oleh guru selama berlangsung dan sesudah berlangsung suatu program pembelajaran untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi program pembelajarannya (Zakaria,2006:25)
Penilaian kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang hasil belajar/kompetensi siswa.
Tujuan Penilaian Kelas
            Penilaian kelas dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan belajar siswa, guna menetapkan sampai sejauhmana siswa telah menguasai kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum
Manfaat penilaian kelas
Ø  Sebagai umpan balik bagi siswa agar mengetahui kemampuan dan kekurangannya
Ø  Untuk memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa
Ø  Sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses belajar mengajar
Ø  Sebagai informasi kepada orang tua dan komite sekolah tentang efektivitas pendidikan

Keunggulan penilaian kelas :
Ø  memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang dipahami dan mampu dikerjakannya.
Ø  Prestasi belajar siswa terutama tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok, tetapi dengan prestasi atau kemampuan yang dimiliki sebelumnya;
Ø  Pengumpulan informasi dilakukan dengan berbagai cara
Ø  Siswa tidak sekedar dilatih memilih jawaban yang tersedia, tetapi lebih dituntut menanggapi dan memecahkan masalah
Ø  siswa diberi kesempatan memperbaiki prestasi belajarnya.
Ø  Penilaian tidak hanya dilaksanakan setelah proses belajar-mengajar (PBM) tetapi dapat dilaksanakan ketika PBM sedang berlangsung (penilaian proses).
Ø  Kriteria penilaian karya siswa dapat dibahas guru dengan para siswa sebelum karya itu dikerjakan sehingga secara tidak langsung terdorong agar berusaha mencapai harapan (expectations) (standar yang dituntut) guru.
Fungsi Penilaian
·                     Sebagai alat untuk menetapkan penguasaan siswa terhadap kompetensi.
·                     Sebagai bimbingan,
·                     Sebagai alat diagnosis,
·                     Sebagai alat prediksi
·                     Sebagai grading,
·                     Sebagai alat seleksi,
CARA-CARA PENILAIAN
1.      Penilaian Melalui Portofolio (Portfolio)
2.      Penilaian Melalui Unjuk Kerja (Performance)
3.      Penilaian Melalui Penugasan (Proyek/Project)
4.      Penilaian Melalui Hasil kerja (Produk/Product)
5.      Penilaian Melalui Tes Tertulis (Paper & Pen)


            Disini kami hanya membahas tentang penilaian unjuk kerja, penilaian unjuk kerja sendiri adalah penilaian yang dapat mengungkapkan kemampuan siswa dalam pemahaman konsep, pemecahan masalah dan komunikasi.
Ada pula beberapa pengertian penilaian unjuk kerja menurut beberapa ahli, antara lain:
Ø    Menurut Danielson,
            Mendefinisikan penilaian unjuk kerja sebagai “Performance assesment means any assesment of student learning that requires the evaluation of student writing, product, or behavior. That is, it includes all assesment with the exeption of multiple choice, matching, true/false testing, or problem with a single correct answer”.(penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.
Ø    Menurut Fitzpatrick dan Morison (1971)
            Berpandangan bahwa penilaian kinerja (performance assessment) sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang begitu besar dengan tes lainnya yang dilaksanakan di dalam kelas, hal ini menurut mereka tergantung dari sejauhmana tes itu dapat mensimulasikan situasi dari kriteria-kriteria yang diharapkan.
Ø    Menurut Trespeces (1999)
            Mengatakan bahwa “performance assessment” adalah berbagai macam tugas dan situasi dimana peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks. Jadi boleh dikatakan bahwa “performance assessment” adalah suatu penilaian yang meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai macam konteks sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Penilaian terhadap performance dapat diartikan penilaian formatif jangka panjang (Joni, 1981).  Penilaian ini dilakukan dengan mengkonsepsikan kriteria semakin jauh menjangkau ke depan dan meletakkan dasar bagi pembinaan serta penyempurnaan sistem secara terus menerus. Penilaian terhadap performance disusun dalam bentuk indikator-indikator performance.



Indikator performance dalam pengukuran performance
Indikator performance menurut Perrin (1988) ada delapan titik kecacatan,  diantaranya:
a.                   variasi interpretasi kesamaan istilah dan konsep.
b.                   pergeseran tujuan.
c.                   Penggunaan pengukuran yang tidak bermakna dan tidak relevan.
d.                  Kekacauan antara penghematan biaya dan pergeseran biaya.
e.                   Ketidakjelasan perbedaan kekritisan subgroup oleh sejumlah indikator yang menyesatkan.
f.                   Pembatasan pendekatan berbasis objektiv dengan evaluasi.
g.                  Ketidakgunaan indikator performance untuk pembuatan keputusan dan alokasi sumberdaya.
h.                  Ketidakkonsistenannya antara fokus yang menyempit dalam pengukuran dengan manajemen publik yang lebih besar.

Bernsteins (1999) dalam artikelnya mengungkapkan apa yang dikatakan oleh Perrin bukan dari kecacatan konsep dasar pengukuran performance, tetapi sistem implementasi yang lemah sehingga terlalu banyak terfokus pada proses dan pengumpulan berlawanan dengan ketepatan penggunanan dari pengukuran. Winston (1999) berdasarkan pengalamannya menyimpulkan bahwa sistem pengukuran performance membutuhkan dinilai silang antara program dan perencanaan untuk menentukan faktor-faktor: fasilitas hasil capaian yang diharapkan, outcome yang tidak diharapkan, tindakan sebagai batas efektivitas implementasi. Feller (2002) menegaskan tentang penilaian performance secara implisit sebagai: hasil karakteristik organisasi yang performancenya dinilai dan kondisi politis dan organisasi dibawah sistem pengukuran performance yang di adop dan diimplementasikan.
Aspek politis dan organisasi dalam pengukuran performance berhubungan dengan indikator performance yang disusun serta ditetapkan. Dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan indikator performance dalam organisasi dan politis sangat besar, yang menggambarkan kemajuan organisasi tingkat finansial, aktivitas yang akan dikembangkan dll. Secara pertimbangan politis, sistem pengukuran performance berdampak pada distribusi dan otoritas organisasi seperti halnya pertimbangan dalam legitimasi pengambilan kebijakan. Dalam level kompetensi organisasi juga mempengaruhi secara luas pengukuran performnace yang digunakan. Penggunaan indikator performance tidaklah sederhana, Ketidak mampuan melepaskan diri dengan isu yang ada berpengaruh pada pengukuran performance dan bagaimana mengukur performance itu.
Feller (2002) memberikan arahan dalam pengukuran performance:
1.             Kebimbang dalam pengungkapan dengan kata tanya apa, kapan, bagaimana, dimana dan mengapa berdampak pada penemuan ilmiah merupakan pertanyaan dasar dalam sejarah sain dan teknologi.
2.             Apapun kepercayaan dan kepastian dalam melampirkan pengukuran output ilmiah, transformasi output ke dalam outcome cukup komplek.
3.             Barangkali pembatasan yang paling banyak dalam pengukuran performance sebagai penerapan kebijakan sains yang mungkin sesuai dengan dimensi monitor dan performance.
4.             Sedikit pertimbangan memiliki dampak pada dukungan pemerintah tehadap sains dan teknologi.
Karakteristik Penilaian Kinerja
Performance assessment memiliki karakteristik dasar yaitu :
1) peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam mengkreasikan suatu produk atau terlibat dalam suatu aktivitas (perbuatan), misalnya melakukan eksperimen untuk mengetahui tingkat penyerapan dari kertas tisue,
2) produk dari performance assessment lebih penting daripada perbuatan (performan). (Maertel,1992)
Dalam hal memilih, apakah yang akan dinilai itu produk atau performance (perbuatan) tergantung pada karakteristik domain yang diukur (Messirh, 1994). Dalam bidang seni misalnya, seperti acting dan menari, perbuatan dan produknya sama penting, tetapi dalam creative writing mengukur produk adalah fokus yang utama.

Tujuh kualitas penilaian kinerja
Ø    Generability : apakah kinerja peserta tes (students performance) dalam melakukan tugas yang diberikan tersebut sudah memadai untuk digeneralisasikan kepada tugas-tugas lain? Semakin dapat digeneralisasikan tugas-tugas yang diberikan dalam rangka penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (”performance assessment) tersebut, dalam artian semakin dapat dibandingkan dengan tugas yang lainnya maka semakin baik tugas tersebut. Hal ini terutama dalam kondisi bila peserta tes diberikan tugas-tugas dalam penilaian keterampilan (performance assessment) yang berlainan.
Ø    Authenticity: tugas yang diberikan tersebut sudah serupa dengan apa yang sering dihadapinya dalam praktek kehidupan sehari-hari
Ø    Multiple foci: tugas yang diberikan kepada peserta tes sudah mengukur lebih dari satu kemampuan-kemampuan yang diinginkan (more than one instructional outcomes)?
Ø    Teachability: apakah tugas yang diberikan merupakan tugas yang hasilnya semakin baik karena adanya usaha mengajar guru di kelas? Jadi tugas yang diberikan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) adalah tugas-tugas yang relevan dengan yang dapat diajarkan guru di dalam kelas.
Ø    Fairness: apakah tugas yang diberikan sudah adil (fair) untuk semua peserta tes. Jadi tugas-tugas tersebut harus sudah dipikirkan untuk semua kelompok jenis kelamin, suku bangsa, agama, atau status sosial ekonomi.
Ø    Feasibility: tugas-tugas yang diberikan dalam penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) memang relevan untuk dapat dilaksanakan mengingat faktor-faktor seperti biaya, ruangan (tempat), waktu, atau peralatannya.
Ø    Scorability: tugas yang diberikan nanti dapat diskor dengan akurat dan reliable, Karena memang salah satu yang sensitif dari penilaian keterampilan atau penilaian kinerja (performance assessment) adalah penskorannya.

Sebelum menentukan teknik dan alat penilaian, penulis soal perlu menetapkan terlebih dahulu tujuan penilaian dan kompetensi dasar yang hendak diukur. Adapun proses penentuannya secara lengkap dapat dilihat pada bagan berikut ini.




Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan untuk tujuan penilaian sebagai berikut.

1.                  Menentukan tujuan penilaian.             Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar, diagnostik, atau seleksi. Contoh untuk tujuan prestasi belajar, lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu/kelompok, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, laporan kerja praktik/laporan praktikum, ujian praktik.
2.                  Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD).
            Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar.
3.                  Menentukan jenis alat ukurnya, yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya.
Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik), kontinuitas (merupakan materi lanjutan), relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain), dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepat diujikan secara tertulis/lisan. Bila jawabannya tepat, maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa, pilihan ganda atau uraian. Bila jawabannya tidak tepat, maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan: kinerja (performance), penugasan (project), hasil karya (product), atau lainnya.
4.         Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta pedoman penskorannya. Dalam menulis soal, penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisan soal.
Langkah-langkah membuat tugas performansi
Ø  memperhatikan hasil pembelajaran yang menuntut performansi siswa, ini dapat diketahui dari tujuan pembelajaran;
Ø   menyeleksi fokus yang akan dinilai, tugas harus dikembangkan dari kurikulum dan yang diukur adalah proses kerja;
Ø   menyeleksi tingkat autentik tugas, pada langkah ini dilakukan audit relevansi antara topik pelajaran di kelas dengan kenyataan tugas di lapangan kerja, dan penseleksian tugas melalui bantuan tujuh panelis
Ø  menyeleksi kepantasan melaksanakan tugas, hal ini penting mengingat tidak semua tugas yang akan diuji dilaksanakan pada mobil, cukup melalui simulator. Dalam hal ini ada beberapa pertimbangan: keterobservasian performansi siswa, pengurangan biaya pelaksanaan ujian, analisis prosedur dapat dibantu dalam bentuk hasil kerja
Ø  menetapan kriteria tingkat keberhasilan performansi siswa, ini mencakup kualitas dan waktu kerja
Ø  menetapkan metode observasi, disini dipakai metode penilaian skala penilaian (rating scale) pakai bobot dan tak pakai bobot.
            Setiap tugas yang dibebenkan pada siswa terdiri dari beberapa aktivitas, setiap aktivitas pada umumnya berbeda tingkat kerumitan dan lama pengerjaan. Karena itu, sekor suatu tugas merupakan gabungan beberapa komponen sekor, disebut sebagai sekor komposit. Dalam pelaksanaan pengukuran, ada dua hal yang mungkin dapat terjadi. Pertama, sekor komposit berasal dari komponen tanpa bobot, ini berarti sekor antar komponen tanpa variansi, pengukuran cara demikian disebut Skala penilaian tanpa pembobotan (SPTP). Ke dua, dalam beberapa hal ciri khas suatu aktivitas (butir) dipertimbangkan, seperti kerumitan aktivitas, lama pengerjaan, dan kepentingannya. Sehingga, melahirkan ketidakseragaman bobot pada setiap aktivitas, dan variansi antar komponen akan mempengaruhi sekor komposit. Pengukuran demikian dikatakan Skala penilaian pakai pembobotan (SPPP). Kedua cara pengukuran ini disebut ragam tes performansi.






Contoh instrumen performance

LEMBAR I
CONTOH PENILAIAN DENGAN NUMERICAL RATING SCALE
UNTUK MENGAMATI KEMAMPUAN SISWA DALAM MELAKUKAN PRAKTIKUM
KALOR JENIS BENDA PADAT

Nama Siswa                :
Kelas/Sem                   :
Mata Pelajaran                        : Fisika
Berilah tanda (√) centang pada tabel skor untuk setiap tindakan dengan keterangan sebagai berikut:
5 bila Anda anggap cara melakukan aspek keterampilan sangat tepat, dan skor 1 bila sangat tidak tepat
No
Aspek Keterampilan
Skor
1
2
3
4
5
A. Persiapan
1
Membaca panduan percobaan





2
Mengecek kesesuaian alat dan bahan yang disiapkan di meja dengan yang ada di buku panduan





3
Mengecek penggunaan neraca





4
Mengecek jenis logam untuk percobaan





5
Mengecek pemanas Bunsen yang akan digunakan





6
Mengecek thermometer dan cara memegangnya





7
Mengecek gelas kimia





8
Menyiapkan kertas untuk mencatat percobaan





9
Mengecek bejana kalorimeter dan pengaduknya





B. Kegiatan Pendahuluan
10
Cara mengukur massa logam dengan neraca





11
Mencatat massa logam dalam tabel dan menulis satuannya





12
Cara mengukur massa gelas kimia dalam tabel dengan neraca





13
Mencatat massa gelas kimia dalam tabel dan menuliskan satuannya





14
Cara mengukur massa air





15
Mencatat massa air dalam tabel dan menulis satuannya





16
Cara mengukur massa bejana calorimeter dan pengaduknya





17
Mengukur massa thermometer





C. Kegiatan Percobaan
18
Mengukur suhu air, calorimeter dengan thermometer





19
Mencatat suhu air, calorimeter pada tabel dan menuliskan satuannya





20
Memanaskan air dalam gelas kimia





21
Cara memanaskan logam dalam gelas kimia





22
Cara mengukur suhu logam dalam gelas kimia





23
Mencatat suhu logam dalam tabel





24
Cara memindahkan logam ke dalam calorimeter





25
Setelah batang logam dimasukkan dalam calorimeter, dilakukan pengadukan agar perpindahan kalor merata





26
Selanjutnya dilakukan pengukuran suhu air sebagai suhu akhir dan mencatatnya dalam tabel disertai satuannya





D. Kegiatan Akhir
27
Mengecek kembali hasil-hasil pengukurannya





28
Mengembalikan posisi neraca pada keadaan setimbang/netral





29
Mematikan lampu pemanas Bunsen dengan benar





30
Membersihkan gelas kimia, thermometer, batang logam, dan ditempatkan pada tempatnya





31
Menganalisis data percobaan yang telah diperoleh dan membuat laporan sederhana hasil percobaan





Total







                                                                                                 
                                                                                                                                                   …………..,………………….20….
                                                                                                                        Guru

                                                                                                           
                                                                                        ………………………………………





LEMBAR II

CONTOH PENILAIAN DENGAN KRITERIA RUBRIK
UNTUK MENGAMATI KEMAMPUAN SISWA DALAM MELAKUKAN PRAKTIKUM
KALOR JENIS BENDA PADAT

Nama Siswa                :
Kelas/Sem                   :
Mata Pelajaran                        : Fisika

Berilah tanda (√) centang di bawah kata ‘Ya’ bila Anda anggap bahwa aspek keterampilan yang dinyatakan itu memang ada dan benar, dan berilah tanda centang di bawah kata ‘tidak’ bila aspek  keterampilan itu muncul, tetapi tidak benar atau aspek itu tidak muncul sama sekali. Kata ‘ya’ diberi skor 1 dan kata ‘tidak’ diberi skor 0.



 
 






No
Aspek Keterampilan
Ya
Tidak
1
Membaca panduan percobaan


2
Mengecek kesesuaian alat dan bahan yang disiapkan di meja dengan yang ada di buku panduan


3
Mengecek penggunaan neraca


4
Mengecek jenis logam untuk percobaan


5
Mengecek pemanas Bunsen yang akan digunakan


6
Mengecek thermometer dan cara memegangnya


7
Mengecek gelas kimia


8
Menyiapkan kertas untuk mencatat percobaan


9
Mengecek bejana kalorimeter dan pengaduknya


10
Cara mengukur massa logam dengan neraca


11
Mencatat massa logam dalam tabel dan menulis satuannya


12
Cara mengukur massa gelas kimia dalam tabel dengan neraca


13
Mencatat massa gelas kimia dalam tabel dan menuliskan satuannya


14
Cara mengukur massa air


15
Mencatat massa air dalam tabel dan menulis satuannya


16
Cara mengukur massa bejana calorimeter dan pengaduknya


17
Mengukur massa thermometer


18
Mengukur suhu air, calorimeter dengan termometer


19
Mencatat suhu air, calorimeter pada tabel dan menuliskan satuannya


20
Memanaskan air dalam gelas kimia


21
Cara memanaskan logam dalam gelas kimia


22
Cara mengukur suhu logam dalam gelas kimia


23
Mencatat suhu logam dalam tabel


24
Cara memindahkan logam ke dalam kalorimeter


25
Setelah batang logam dimasukkan dalam calorimeter, dilakukan pengadukan agar perpindahan kalor merata


26
Selanjutnya dilakukan pengukuran suhu air sebagai suhu akhir dan mencatatnya dalam tabel disertai satuannya


27
Mengecek kembali hasil-hasil pengukurannya


28
Mengembalikan posisi neraca pada keadaan setimbang/netral


29
Mematikan lampu pemanas Bunsen dengan benar


30
Membersihkan gelas kimia, thermometer, batang logam, dan ditempatkan pada tempatnya


31
Menganalisis data percobaan yang telah diperoleh dan membuat laporan sederhana hasil percobaan


Total




LEMBAR III
CONTOH PENILAIAN DENGAN DESCRIPTIVE RATING SCALE
UNTUK MENDESKRIPSIKAN PARTISIPASI SISWA DALAM
KEGIATAN DISKUSI KELAS


Nama Siswa   :
Topik              :
Tanggal          :


  1. Bagaimanakah aktifitas siswa dalam diskusi?  


            Sangat aktif                                                Tidak Aktif


  1. Bagaimanakah kemampuan siswa mengemukakan pendapat?


            Sangat lancar                                             Tidak lancar


  1. Bagaimanakah urutan pikiran siswa?

          
               Runtut                                                            Kacau


  1. Bagaimanakah kemampuan siswa membantah pendapat orang lain?


                     Tepat                                                     Klise


  1. Bagaimanakah kemampuan mendukung pendapat orang lain?



     Logis                                                        Tak Jelas

LEMBAR IV
CONTOH PENILAIAN DENGAN DAFTAR CHECK UNTUK MENGAMATI
KEGIATAN MENGERJAKAN LATIHAN SOAL DALAM KELOMPOK

Mata Pelajaran          :
Kelas/Semester           :
Topik Diskusi                        :
Tanggal                      :
Kelompok                   :

No
Nama Siswa
Aktivitas Positif
Aktivitas Negatif
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
AAN






2
BEBEN





3
CICI







4
DUDU








5
EKO





Jumlah













Berilah tanda (√) centang pada kolom :
Akitivitas Positif dengan keterangan :
1                    = Mengerjakan soal latihan
2                    = Mengemukakan gagasan untuk memecahkan soal latihan
3                    = Mencari cara menyelesaikan soal dari buku/sumber belajar
4                    =  ……………………………….
5                    =  ……………………………….
Aktivitas Negatif dengan keterangan :
6                    = Pasif/tidak berpartisipasi aktif dalam diskusi
7                    = Mengganggu aktivitas/pekerjaan teman lainnya
8                    = Melakukan aktivitas yang mengganggu teman di luar konteks diskusi
9                    =  ……………………………….
10                =  ……………………………….


No
Nama Siswa
Skor
Aktivitas Positif
Skor
Aktivitas Negatif
Selisih Skor
1
AAN
4
0
4
2
BEBEN
5
0
5
3
CICI
3
0
3
4
DUDU
1
-1
0
5
EKO
3
-2
1


KETERANGAN :
Banyaknya aktivitas positif sebaiknya lebih banyak daripada aktivitas negative agar skor akhir tidak bernilai negatif

Latar Belakang Penilaian Kinerja
Penialain kinerja (Performance Asesment), merupakan bagian dari asesmen alternative, asesmen ini muncul sekitar tahun 1980-an, sebagai kritikan terhadap kelemahan tes baku yang menggunakan tes objektif, tes baku banyak mendominasi di persekolahan dan merupakan bagian yang terisolir dari proses Pembelajaran secara keseluruhan. Tes baku didasarkan pada prinsip-prinsip validitas, realibilitas, keadilan dan kemanfaatan (usebilitas).
Pengertian Asesmen Kinerja
  • Asesmen kinerja adalah penilaian yang menekankan pada apa yang dapat dikerjakan oleh siswa dalam bentuk kinerja.
  • Asesmen kinerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan atau kinerja siswa dalam melakukan sesuatu.
  • Corner “ asesmen merupakan cara untuk menilai performance siswa secara individual maupun kelompok setelah dilaksanakan pembelajaran”
  • Herman “asesmen merupakan suatu proses atau upaya normal pengumpulan data atau informasi yang berkaitan dengan variable-variabel Pembelajaran yang dapat digunakan sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru”
  • Jalogo “asesmen merupakan cara untuk menilai sesuatu dari berbagai sudut pandang seperti tingkatan, nilai guna dan keunggulannya”.
Tujuan dan Peran Asesmen Kinerja
Menurut Popham tujuan asesmen kinerja adalah :
  • Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar
  • Memonitor kemajuan atau perkembangan siswa
  • Menentukan level atau jenjang kemampuan siswa
  • Mempengatuhi persepsi public tentang efektifitas pembelajaran
  • Mengevaluasi kinerja guru dan menglasifikasi tujuan Pembelajaran yang dirumuskan oleh guru.
Lima tuntutan belajar dalam asesmen kinerja menurut Marjono (1993 :18), yaitu:
  • Sikap dan persepsi tentang belajar
  • Perolehan dan pemanduan pengetahuan
  • Perluasan dan penajaman pengetahuan
  • Penggunaan pengetahuan secara lebih bermakna
  • Pelatihan berfikir kritis dan kreatif
Pada asesmen kinerja pemberian skor digunakan dua pendekatan yaitu : (1) Metode Holistic, dan (2) Metode Analitic.
Metode Holistic digunakan apabila para penskor hanya memberikan satu buah skor atau nilai berdasarkan penilaian mereka secara keseluruhan dari hasil kinerja peserta tes.
Contoh Holistic rubric untuk kemampuan menulis :
Skor
Deskripsi
4
ü  Isi seluruh tulisan menarik
ü  Alur pikiran lancer, terjemahan baik
ü  Pengorganisasian topic baik
ü  Penggunaan struktur kalimat bagus
3
ü  Sebagian kecil isi kurang menarik
ü  Alur pikiran lancer, tetapi beberapa terjemahan jelek
ü  Ada pengorganisasian topic, tetapi masih ada kelemahan-kelemahan.
ü  Ada kesalahan kecil secara mekanis
2
ü  Isi kurang  menarik dengan kehilangan focus alur pikiran terpotong-potong dengan beberapa terjemahan yang jelek
ü  Pengorganisasian kurang dengan penyimpangan topic
ü  Kesalahan mekanis sangat serius
1
ü  Focus tidak jelas
ü  Kalimat terputus-putus dan bertele-tele
ü  Pengorganisasian sangat jelek
ü  Banyak kesalahan secara mekanis dan struktur kalimat sangat lemah.
Karakteristik Penialian Kinerja
  • Multi kriteria, kinerja siswa harus menggunakan penilaian yang memiliki lebih dari satu criteria.
  • Standar kualitas yang spesifik, masing-masing criteria kinerja siswa dapat dinilai secara jelas dan eksplisit dalam memajukan evaluasi kualitas kinerja siswa
  • Adanya judgement penilaian, asesmen kinerja membutuhkan penilaian yang bersifat manusiawi untuk menilai bagaimana kinerja siswa dapat diterima secara nyata (real), bukan menilai dengan menggunakan angka pada computer atau mesin (seperti pada tes buku).
Karakteristik Mengevaluasi Penilaian Kinerja
  • Adanya partisipasi aktif siswa
  • Evaluasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari PBM.
  • Evaluasi selain untuk mengetahui posisi atau kemampuan siswa, juga untuk memperbaiki PBM.
  • Evaluasi merupakan upaya untuk mencapai tujuan Pembelajaran



Langkah-langkah Membuat Penilaian Kinerja
Wujud utama dari penilaian kinerja ada dua yaitu :
  • Tugas (task), bentuk tugas pada penilaian kinerja bisa bentuk : proyek, pameran, portofolio, atau bentuk tugas yang dapat memperlihatkan kemampuan siswa (real word application)
  • Kriteria penilaian (rubric), yang merupakan panduan untuk memberikan skor.
Adapun langkah-langkah membuat penilaian kinerja adalah sebagai berikut :
  • Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir yang terbaik.
  • Tuliskan perilaku kemampuan-kemampuan spesifik (operasional) yang penting dilakukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil yang terbaik.
  • Usahakan membuat kriteria kemampuan yang diukur tidak terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasikan selama siswa melaksanakan tugas.
  • Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable)atau karakter produk yang dihasilkan.
  • Urutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati.
  • Periksa kembali apa yang telah dibuat dan kalau mungkin dibandingkan kriteria kemampuan yang sudah ada yang telah dibuat sebelumnya oleh orang lain di lapangan.
            Keuntungan Penilaian Unjuk Kerja  Penilaian unjuk kerja memberikan kesempatan siswa berkompetisi dengan dirinya sendiri daripada dengan orang lain. Melalui penilaian tersebut, siswa mendapat pemahaman yang nyata tentang apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka kerjakan. Penilaian unjuk kerja tidak seperti tes tertulis- tidak memberikan ancaman. Sebab tidak ada jawaban benar atau salah dan kenyataan penilaiannya dapat mengatasi ketakutan siswa dalam belajar.  Penilaian unjuk kerja tidak merupakan akhir dari penilaian itu sendiri, tetapi menjadi bagian terpadu dari proses pengajaran dan membantu untuk mengarahkan pengajaran selanjutnya. Melalui proses penilaian ini siswa belajar tentang hasil-hasil kegiatan dan pembelajarannya yang dinilai oleh guru.   Penilaian unjuk kerja membuat pembelajaran lebih relevan dengan kehidupan siswa dan dunia nyata. Ini akan membantu guru-guru memusatkan pada hasil-hasil pendidikan yang secara nyata penting, dan bukan terisolasi pada  informasi yang sedikit saja.  Sebagai siswa, yang sedang belajar, hal itu akan menjadikan mereka kompeten dalam pemecahan masalah, yakin dengan kemampuannya dalam berpikir logis dan dapat mengkomunikasikan ide-idenya dengan jelas.  Mereka akan mengakui   bahwa mereka telah menerima pengajaran dan bahwa pendidikan itu disediakan untuk kehidupan mereka

Standar Unjuk Kerja   
            Dalam beberapa penilaian yang menginginkan apakah yang siswa ketahui atau apa yang dapat dilakukannya, selalu muncul pertanyaan “apakah standar yang digunakan untuk membandingkan unjuk kerja siswa?”. Dalam tes tertulis, skor numerik membandingkan skor siswa satu dengan siswa lainnya atau menetapkan standar baku. Sedang pada penilaian unjuk kerja siswa, evaluasi terhadap hasil kerjanya dibandingkan dengan tugas itu sendiri. Tujuan guru dalam menilai adalah untuk melihat perkembangan intelektualnya atau kekurangannya. Dua hal yang harus ada untuk kejadian ini: pertama, standar unjuk kerja harus ditetapkan, dan kedua, tugas unjuk kerja harus ditulis sehingga dapat dievaluasi menggunakan standar yang ditetapkan itu.  Guru dapat mengembangkan standar unjuk kerja sendiri untuk menilai kualitas pekerjaan siswanya. Standar itu tidak harus mendetail, tetapi dapat yang sederhana.


Sebagai contoh, penilaian terhadap unjuk kerja siswa dalam pemecahan masalah, dapat menggunakan tingkatan berikut.
Tipe unjuk kerja   : Pemecahan masalah Tingkatan unjuk kerja : Kreatif, Substansial, Parsial, Tidak Satupun        (Rendah) 
Membuat Instrumen Penilaian Unjuk Kerja
            Perlu diingat bahwa penilaian unjuk kerja bukan semata-mata dirancang sebagai  sebuah kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga didisain untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Karena itu sejumlah faktor harus diperhatikan dalam membuat instrumennya.
1.                  Ukuran instrumen
            Ukuran instrumen dapat kecil atau bisa juga besar. Tugas besar dapat mengukur lebih dari satu kompetensi dasar dan umumnya membutuhkan waktu yang cukup banyak. Umumnya tugas ini autentik dan kompleks sehingga siswa harus menganalisa dan mensintesa informasi yang diperoleh dari berbagai sumber.  Tugas kecil dapat berupa pertanyaan terbuka dengan memberi solusi suatu soal dan menjelaskan penalaran mereka. Umumnya tugas seperti ini dapat diselesaikan dalam jam pertemuan di kelas.
            Untuk menentukan tugas kecil atau besar yang akan digunakan tergantung kepada tujuan penilaian yang diinginkan guru. Perlu dikaji apakah tujuan dilaksanakan semata-mata hanya sebagai umpan balik atau juga untuk mencapai tujuan yang lebih luas? Untuk ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Tugas kecil lebih sesuai untuk umpan balik saja. Jika guru selesai mengajar suatu konsep dan ingin mengetahui apakan siswa sudah mengerti maka digunakan tugas kecil. Tugas dapat berbentuk meminta siswa untuk menyelesaikan masalah yang relatif kecil, menjelaskan pikiran dan menunjukkan pekerjaan mereka. Dalam hal ini tidak termasuk aktivitas lain sebagai bagian dari tugas. b. Tugas besar mencakup tujuan penilaian yang lebih luas, tidak sekedar umpan balik saja. Seringkali guru menginginkan siswa mempelajari materi baru sebagai hasil tugas unjuk kerja. Untuk hal seperti ini, tugas unjuk kerja meliputi beberapa aktivitas dan akan menghabiskan waktu beberapa hari untuk menyelesaikan tugas.
2.                  Ketrampilan dalam memulai
                        Pada umumnya waktu memulai menggunakan penilaian unjuk kerja, guru belum begitu yakin dan nyaman dengan apa yang mereka kerjakan. Bagi pemula disarankan untuk memulai dengan instrument unjuk kerja yang kecil dulu. Jika belum yakin apakah petunjuk tugas untuk siswa sudah cukup jelas, maka hal ini dapat ditanyakan kepada siswa sewaktu mereka sedang menyelesaikan tugas itu. Petunjuk ini selanjutnya dapat diperbaiki sehingga siap untuk digunakan selanjutnya.
Pengembangan Tugas Penilaian Unjuk Kerja
            Tugas penilaian unjuk kerja dapat singkat dan sederhana, seperti mengajukan pertanyaan yang menantang berpikir siswa atau meminta penjelasan siswa atau proyek yang mendalam atau investigasi yang menunjukkan unjuk kerja siswa dalam menerapkan model-model matematika untuk memecahkan masalah-masalah dunia nyata. Beberapa tugas penilaian unjuk kerja, memerlukan kriteria-kriteria yang didiskusikan pada awalnya, seperti kesesuaian dengan konteks, antara lain apakah yang siswa pelajari dapat memberikan informasi bagi guru untuk mengetahui apa yang siswa ketahui. Perancang terbaik dari tugas unjuk kerja adalah guru itu sendiri. Guru mengetahui kekuatan dan kelemahan siswanya dengan baik, sehingga mereka dapat merancang.
Hal –hal yang harus dilakukan pada penilaian unjuk kerja
            Pengenalan dan penggunaan tugas penilaian unjuk kerja dalam nampak berbeda dan merupakan hal baru bagi beberapa guru, bahkan mungkin sedikit memaksa guru untuk menggunakan, dan mengevaluasinya. Hali ini tidak berarti bahwa penilaian tersebut tidak perlu diterapkan. Sebagian besar guru telah menggunakan tugas penilaian unjuk kerja secara informal.Dalam pemikiran tugas penilaian unjuk kerja siswa, guru harus mengikuti petunjuk berikut dalam pikirannya.
Penilaian unjuk kerja dalam proses pembelajaran harus:
Ø    Dikenalkan secara teratur dengan menggunakan beberapa tugas yang sederhana, tetapi diperlukan.
Ø    memusatkan pada tujuan proses dalam penalaran.
Ø    digunakan pada semua tingkatan kelas.
Ø    melibatkan perluasan dalam metodologi pengajaran.
Ø    tidak menjadi rumit (kompleks) dan sulit untuk mengimplementasikannya.
Ø    menjadi bagian yang terpadu dalam proses-proses penilaian.
Ø    meminta guru untuk mendiskusikan tujuan pengajaran.
Ø    mengarahkan  pengembangan kumpulan tugas penilaian yang disesuaikan dengan kurikulum.

Evaluasi Hasil Tugas Penilaian Unjuk Kerja 
            Tugas penilaian unjuk kerja tidak dapat dievaluasi menggunakan tes kertas-pensil. Tugas penilaian unjuk kerja melibatkan pemahaman konsep-konsep proses pembelajaran dan langkah-langkah (prosedurnya); mengajarkan bagaimana merangsang pemikiran, sering “open ended” dan jarang sekali mempunyai jawaban tunggal. Evaluasi dari tugas tersebut bergerak dari kriteria umum tugas unjuk kerja ke kriteria khusus. Rubrik yang digunakan memuat 4 skala peringkat dari superior sampai tidak memuaskan. Skala itu dapat dimodifikasi dengan mudah untuk menambahkan butir-butir penilaian yang sesuai (layak). Rubrik harus menekankan penilaian pada tujuan proses dari pengajaran yang sulit untuk dinilai dengan tes konvensional.   Siswa seharusnya mengetahui apa arti masing-masing tingkatan (level) yang ada. Jadi kriteria unjuk kerja khusus harus berkaitan dengan masing-masing tugas unjuk kerja yang diberikan pada siswa. 
            Ketika siswa telah menyelesaikan tugas unjuk kerjanya, hasilnya dibandingkan dengan rubrik khusus dan diskor secara holistik menurut tingkatan terbaik yang dicapainya. Komentar-komentar khusus dapat ditambahkan pada kertas pekerjaan siswa atau pada referensi siswa (semacam rapornya) nanti. melibatkan keputusan profesional dari guru dan biasanya lebih holistik daripada analitis.   Evaluasi holistik artinya bahwa penilaian suatu hasil kerja siswa harus secara menyeluruh. Evaluasi harus dilihat sebagai satu pandangan dari bagian-bagian pekerjaan yang lengkap. Ini berlawanan, dengan evaluasi analitis yang untuk menilai pekerjaan siswa dilihat dalam suatu bagian-bagian, sebelum mengkombinasikan penilaian itu untuk mendapat hasil penilaian secara keseluruhan.   Tahap awal dalam mengevaluasi tugas unjuk kerja adalah dengan menetapkan suatu sistem untuk mendokumentasi (mengumpulkan) unjuk kerja siswa. Rubrik skoring sering digunakan untuk menilai tugas unjuk kerja siswa. 

Kriteria Instrumen Unjuk Kerja yang Baik
 Instrumen unjuk kerja yang  baik memuat hal-hal berikut:
1.                  Autentik dan menarik
            Hal yang penting bagi suatu instrumen unjuk kerja adalah menarik dan melibatkan siswa dalam situasi yang akrab dengan mereka sehingga siswa berusaha untuk menyelesaikan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Siswa cenderung lebih tertarik terhadap situasi tugas yang menyerupai kehidupan sehari-hari. Tugas ini akan membuat siswa menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasainya untuk menyelesaikan tugas tersebut. Situasi dan pertanyaan dalam bahasa yang baik dan dapat dipahami siswa sehingga tidak memancing reaksi siswa seperti “Siapa peduli?” Bagaimana cara menentukan apakah instrumen penilaian unjuk kerja akan membuat siswa tertarik dan terlibat dalam tugas itu? Sebagaimana banyak hal lain dalam dunia pendidikan, pengalaman profesional (professional judgment) adalah kuncinya. Berdasarkan pengalaman dan pemahaman tentang karakteristik siswa, seorang guru dapat memperkirakan apakah aktivitas dalam tugas unjuk kerja yang dibuat akan berhasil atau tidak.


2.                  Memungkinkan penilaian individual
            Banyak instrumen unjuk kerja yang dimaksudkan untuk dikerjakan siswa secara berkelompok. Namun perlu diingat bahwa penilaian ini sebenarnya lebih dititik beratkan untuk penilaian individu. Karena itu disain penilaian unjuk kerja sebaiknya  bisa ditujukan untuk kelompok dan individu. Sebagai contoh sekelompok siswa diberi data dan diminta untuk menganalisanya. Untuk penilaian individunya  masing-masing siswa diminta untuk memberi rangkuman dan penafsiran apa yang ditunjukkan oleh data tersebut.
3.                  Memuat petunjuk yang jelas
            Instrumen unjuk kerja yang baik harus memuat petunjuk yang jelas, lengkap, tidak ambigu dan tidak membingungkan. Petunjuk juga harus memuat apa yang dikerjakan siswa yang nanti akan dinilai. Sebagai contoh, jika salah satu kriteria penilaian meliputi organisasi informasi, maka siswa harus diminta untuk menampilkan informasi yang diperoleh dalam bentuk yang teratur.   Setelah instrumen penilaian unjuk kerja jadi, teman-teman sejawat bisa diminta pendapatnya untuk menganalisa. Mereka mungkin dapat melihat kekurang jelasan petunjuk siswa atau keambiguan kata-kata yang digunakan. Di samping itu mereka juga dapat melihat bila ada informasi yang disajikan tidak lengkap sehingga ada kemungkinan siswa tidak dapat menyelesaikan tugas. Setelah mempertimbangkan masukan dan saran-saran yang diberikan, instrumen dapat diperbaiki dan kemudian bisa diujikan kepada siswa.






Format Penilaian
Di bawah ini disajikan dua contoh format penilaian unjuk kerja.
Text Box: Kelas/ Semester : ………………………….     Kompetensi Dasar : ………………………….. Indikator      :………………………….      Materi Pokok  : ………………………….  

Judul Tugas Deskripsi singkat tentang tugas  (apa yang harus dikerjakan siswa dan hasil apa yang diharapkan)  Petunjuk siswa:  Contoh 1: Format Instrumen

Text Box:  Kelas/ Semester : …………………………. Kompetensi Dasar : ………………………….. Indikator : …………………………. Materi Pokok : ………………………….  
…..adalah ……………(titik-titik awal diisi dengan nama Anda sedangkan yang terakhir diisi dengan peran yang diminta, misal pelajar atau profesi tertentu) Diminta oleh………….(diisi dengan yang menugaskan) Untuk menyelesaikan masalah ………….(diisi dengan tugas yang diberikan) Kondisi yang dihadapi: ………….. Pemecahan masalah yang dilakukan: ………………………. Pekerjaan Anda akan dinilai berdasarkan kriteria: ……………….Kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi: 
Contoh 2: Format simulasi autentik  Mata Pelajaran : …………………………..

Penilaian Unjuk Kerja Secara Umum  Mata Pelajaran : …………………………..

Penilaian Unjuk Kerja Untuk SMA mata pelajaran Matematika:  
Mata Pelajaran            : Matematika Kelas/ Program : XI/ Ilmu Alam, Ilmu Sosial dan Bahasa
Kompetensi Dasar       : Merumuskan dan menentukan peluang kejadian dari    berbagai situasi               serta tafsirannya
Indikator                     : Menentukan peluang kejadian dari berbagai situasi
Materi Pokok              : Peluang

Koin Keberuntungan
Sebuah koin yang setimbang dilambungkan ke atas. Jika koin itu jatuh ke tanah maka bagian sisi koin yang terlihat akan berupa gambar (G) atau angka (A).
a)                  Jika koin dilambungkan 3 kali, berapa peluang:
1)  Paling sedikit terdapat dua gambar
2) Paling sedikit terdapat dua gambar tetapi satu lambungan koin sudah dipastikan adalah gambar.
b)         Jika koin dilambungkan sebanyak 25 kali, berapa peluang bahwa semua hasil yang         muncul adalah gambar? Jelaskan jawaban Anda.
c)         Seseorang dikatakan menang taruhan jika koin yang dilambungkan menghasilkan gambar semua. Tentukan jumlah lambungan koin minimum supaya peluang  memenangkan taruhan adalah 0,002.

Konsep matematika
Diagram pohon membuat siswa dapat mengorganisasi ruang sampel yang diperoleh untuk pertanyaan sehingga dapat menentukan  anggota ruang sampel yang memenuhi pertanyaan:
a.       Untuk menyelesaikan pertanyaan
b.       siswa harus menemukan pola.
Penyelesaian:  
       Siswa mungkin  akan menggunakan diagram pohon seperti di atas atau mereka mungkin langsung menggunakan teori peluang. Ruang Sampel S ={ GGG, GGA, GAG, GAA, AGG, AGA, AAG, AAA}.













Setelah kita mengetahui dari penjelasan di atas, ada beberapa alasan mengapa ada pendidik yang memakai penilaian unjuk kerja atau penilaian performansi, yaitu:
1.      Ketidakpuasan pada jenis tes respon-seleksi (kertas-pensil).
            Pendukung penilaian performansi menurigai bahwa tes pilihan ganda dan pilihan binary (benar-salah) hanya berkisar pada. menyebut pengenalan (recognition), tes jenis ini tidak mengukur dan menyediakan fasliitas untuk keterampilan berpikir tinggi seperti : apakah siswa dapat memecahkan masalah, sintesis, berpikir bebas. Bahkan tes respon -seleksi memiliki bias ketidakadilan dari domain isi.
2. Pengaruh psikologi kognitif.
            Psikologi kognitif mempercayai bahwa siswa dalam belajar mesti mendapatkan pengetahuan dan prosedur. Psikolog beralasan bahwa semua tugas kognitif menuntut kedua jenis itu, tetapi untuk jenis tugas tertentu, ada perbedaan penekanan pada ke-duanya. Jenis utama, seperti prosedur tidak dapat diungkapkankan melalui tes respon-seleksi.
Beberapa pakar psikolog kognitif menyatakan, untuk meningkatkan kualitas penggunaan penilaian performansi dalam pendidikan, hendaklah pembelajaran menekankan pada kemahiran siswa mengurai langkah-langkah (prosedur).
3. Kesukaran menggunakan tes respon-seleksi (paper and pencil test).
            Pada tes respon-seleksi jenis, guru suka memakainya karena mudah memeriksa. Namun, pada Pembelajaran yang didominasi keterampilan seperti SMK, skor siswa harus diungkapkan melalui unjuk kerja, untuk ini dipakai penilaian performansi (peformance test).

Bab III
Penutup
Penilaian yang dilakukan terhadap siswa harus bervariasi bentuknya, salah satu diantaranya adalah penilaian unjuk kerja. Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat. Kelebihan jenis penilaian ini adalah dapat mengungkapkan kemampuan siswa dalam pemahaman konsep, pemecahan masalah, penalaran dan komunikasi yang  tidak dimiliki oleh jenis penilaian berbentuk pilihan ganda, menjodohkan, dan uraian objektif. Namun perlu diingat bahwa kelemahan dari jenis penilaian ini adalah dalam mendisaian  penilaian, baik dalam hal instrumennya maupun dalam hal rubriknya.   Beberapa contoh penilaian unjuk kerja untuk SD, SMP dan SMA yang diambil dari berbagai sumber dapat digunakan sewaktu guru mengajar untuk materi yang sesuai. Jika kita mengambil contoh penilaian unjuk kerja, maka sebelum diterapkan dapat dilakukan perubahan baik instrumen maupun rubriknya agar sesuai dengan kondisi siswa. Rubrik yang digunakan bisa rubrik analitik atau rubrik holistik atau kombinasi keduanya.
Langkah-langkah yang dilakukan guru jika ingin menciptakan sendiri penilaian unjuk kerja yang sesuai dengan materi yang diajarkan dan kondisi siwa di sekolah adalah:
1.      Membuat instrumen.
Instrumen unjuk kerja yang baik haruslah autentik, menarik, memungkinkan penilaian individual, dan memuat petunjuk yang jelas.
2.      Membuat rubrik (pedoman penskoran).
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat rubrik adalah: kriteria yang akan dinilai, skala penilaian, penentuan batasan memenuhi dan tidak memenuhi, sebutan untuk setiap tingkat, deskripsi untuk tingkat penampilan yang berbeda dan menghitung skor. 
DAFTAR PUSTAKA
  • Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991
  • H. Djaali dan  Pudji Mulyono. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo. 2008.
  • Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007.
  • Hamalik, Oemar. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan. Bandung: Mandar Maju. 1989
  • Rosnita. Evaluasi Pendidikan. Bandung: Cita Pustaka Media. 2007.
  • Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 2007.
  • Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2003








1 komentar:

  1. Bagus, Kembangkan minatmu dalam evaluasi dan teruslah menulis, berbagi ilmu bagian dari cita-cita intelektual muslim.

    BalasHapus